Islam Selalu DI HATI
Dari Abu Hurairah, bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Nabi saw, "Berilah nasihat kepadaku." Rasulullah saw bersabda, "Janganlah kamu marah." Lalu Rasulullah saw mengulanginya, "Janganlah kamu marah."
Demikian pula dalam Hadis lain disebutkan, "Tidaklah seseorang dikatakan pemberani karena cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah orang yang dapat menguasai diri dan nafsunya ketika marah."
Sekuat apapun ibadah ritual seseorang, jikalau dia pemarah, maka tetap akan rusak imannya. Kerugian pemarah di antaranya adalah dalam pergaulan ia tak disukai karena para pemarah itu wajahnya tampak tak menyenangkan. Kata-katanya pun kotor dan keji. Bahkan sampai-sampai ia pun seringkali tak sadar apa yang dikatakannya.
Kalau banyak guru yang pemarah, misalnya, maka pengaruhnya bisa menyebabkan murid-muridnya sering tawuran, karena para gurunya kurang mampu memberikan teladan dan menyejukkan hati para muridnya.
Para pemarah itu akan membawa bala dan ini tidak dicontohkan oleh Rasulullah saw. Lalu, bagaimana Rasulullah saw yang mulia menyikapi marah? Bila masalah pribadi yang dihina, maka beliau selalu memaafkan. Tetapi bila masalah agama dihina, maka beliau akan marah dan selalu siap membela.
Beliau saw sempat marah ketika perang Hunain berakhir, karena kaum Anshar merasa kecewa dan menganggap Rasul saw tidak adil. Penyebabnya adalah pembagian ghanimah yang sebagian besar diberikan kepada kaum Muhajirin, orang-orang yang baru masuk Islam di Mekkah, dan bukan kepada kaum Anshar.
Rasulullah saw kala itu memerah mukanya sampai-sampai berkata, "Jikalau Allah dan Rasul-Nya dianggap tak adil, maka siapa lagi yang adil. Padahal mereka pulang dengan hanya membawa harta, sedangkan kalian pulang dengan membawa Rasulullah saw." Singkat tetapi mempunyai makna mendalam dan tak menyakiti siapapun, bahkan membangkitkan kesadaran. Rasul saw marah dengan alasan dan cara yang benar, juga pada saat yang tepat, hingga hasilnya bermanfaat.
Allah SWT memang menciptakan manusia dengan 'software' gembira dan cinta, juga perasaan sedih dan marah. Dengan marah kita bisa membela keluarga, agama, atau orang-orang yang lemah. Misalnya dalam perang melawan yang batil --emosi termasuk salah satu bagian penting. Jika tidak, justru berbahaya karena tak bisa membela atau membangkitkan semangat.
Karakter marahnya seseorang terdapat ke dalam empat jenis :
1.Cepat marah cepat reda
2.Susah marah cepat reda
3.Susah marah susah reda
4.Cepat marah susah reda
2.Susah marah cepat reda
3.Susah marah susah reda
4.Cepat marah susah reda
Dari ke-4 tipe itu yang paling baik adalah tipe ke-2 dan yang paling buruk adalah tipe ke-4. Sehingga ketika seseorang sulit untuk marah karena kepentingan pribadi, maka kemarahannya pun bisa dikendalikannya. Adapun beberapa penyebab kemarahan di antaranya adalah :
Kesombongan
Biasanya orang yang berkedudukan tinggi lebih mudah marah terhadap orang yang dipandang lebih rendah kedudukannya, misalnya direktur kepada karyawannya, majikan kepada pembantunya. Padahal semestinya kita jangan menilai lebih kepada diri kita. Jangan salah penilaian bahwa seorang menjadi pemimpin adalah bisa segalanya kepada orang lain, sehingga membuat kita mudah tersinggung, bila orang tidak bersikap sesuai penilaian yang salah tersebut. Jangan merasa diri lebih baik dari orang lain, agar kita tidak tamak kepada penghargaan. Kalau kita sudah tidak tamak itu akan lebih ringan, kita harus melatih diri kita untuk hanya merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali ilmu yang dititipkan oleh Allah sedikit, lebih banyak tidak tahu, kita tidak punya harta sedikitpun kecuali hanya titipan Allah, kita tidak punya jabatan atau kedudukan sedikitpun kecuali yang telah Allah amanahkan sebentar.
Dengki
Seseorang jika sudah memiliki sifat dengki, apalagi kepada orang tertentu, biasanya akan memiliki rasa sebal jika bertemu atau mendengar/mengingat orang tersebut. Maka ada istilah susah melihat orang senang, senang melihat orang lain susah. Sehingga ia bisanya hanya mencaci, sulit untuk bisa memuji. Sungguh alangkah menderitanya orang-orang yang disiksa oleh kesempitan hati karena dengki. Dia pun akan mudah sekali tersinggung, dan kalau sudah tersinggung seakan-akan tidak termaafkan, kecuali sudah terpuaskan dengan melihat orang yang menyinggungnya dimarahi atau dilukai, sehingga menderita, sengsara, atau tidak berdaya. Percayalah, makin mendengki kepada seseorang akan makin sengsara hidup ini. Padahal, mau apa hidup pakai dengki, karena semua rejeki sudah diatur dengan sempurna oleh Allah SWT.
Lingkungan
Seseorang yang asalnya penakut, dengan bergabung dalam lingkungan yang membuatnya berani negatif, maka bisa membuatnya menjadi berani negatif, dan sebetulnya ia adalah seorang pengecut, beraninya hanya bergerombol saja, sendirian ia takut. Mereka pun membela seringkali bukan untuk suatu kebenaran. Maka ia akan gampang sekali tersulut emosi oleh hal-hal kecil saja. Maka segera tinggalkan lingkungan yang membuat pengaruh negatif, jika kita dipastikan hanya akan terbawa negatif.
Banyak keinginan
Dengan disertai ketidakmampuan untuk menoleransi keadaan, ia tidak bisa melakukan hal-hal tertentu dengan upayanya sendiri. Ciri-ciri orang yang tidak bisa mandiri adalah menggampangkan dan inginnya diladeni. Orang yang paling banyak diladeni cenderung kehidupannya menjadi pemarah. Karena ia merasa lebih daripada orang yang belum memenuhi keinginannya itu.
Hati-hatilah dengan kemarahan, sebab dengan memarahi orang lain ibaratnya seperti memaku di tembok. Walaupun sudah dicabut pakunya, tetap saja akan ada bekasnya. Tatkala kita memarahi oleh orang lain, ketahuilah pada saat perih hati, doanya lebih mustajab. Kita menyakiti orang lain, orang mungkin tidak bisa membalas langsung, namun doanya tidak bisa kita tahan. Kalau orang teraniaya, kemudian berdoa, maka doanya tidak bisa terhalangi, sebagaimana sabda nabi Muhammad saw, “Hati-hatilah terhadap doa orang yang terzalimi, karena tidak ada suatu penghalang pun antara doa tersebut dan Allah.” (HR Bukhari).
Karenanya dengan doa orang yang dimarahi, ia bisa jadi mendapatkan musibah. Petaka tidak bisa ditahan oleh orang-orang zalim. Dan menyakiti orang lain bisa dikategorikan orang yang menzalimi.
Tidak perlu diladeni orang-orang pemarah, karena akan rugi bagi diri kita sendiri. Doakan saja kebaikan kepadanya, jangan sampai terjadi konflik kekerasan yang sia-sia, karena perkara yang remeh.
Orang-orang tawuran sia-sia itu benar-benar tidak bisa dimengerti, dan benar-benar bodoh. Mereka merasa gagah dengan adanya kekerasan itu. Sebetulnya mereka bukan hebat, melainkan pengecut, karena beraninya keroyokan.
Dengan demikian, kendalikan diri agar tidak terjadi kemarahan yang sia-sia. Marah dibenarkan sepanjang apa yang membuatnya marah adalah kebenaran, caranya benar, untuk tujuan kebenaran.

Komentar
Posting Komentar